Bawaslu Sumbawa

Sumbawa - Fenomena Golongan Putih (Golput) merupakan salah satu tantangan paling persisten dalam sistem demokrasi elektoral. Secara sosiologis dan politis, golput bukan sekadar angka ketidakhadiran di TPS, melainkan cerminan dari dinamika kepercayaan publik terhadap institusi negara.

Forum Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan oleh Mahasiswa/i Fakultas Ilmu Sosial dan Politik dengan menghadirkan narasumber dari Bawaslu Kabupaten Sumbawa (Ubaidullah, S.Pd., M.Pd) dan KPU Kabupaten Sumbawa (M. Ali, S.IP) giat ini merupan langkah pencegahan pelanggaran pemilu dan Pilkada sedini mungkin. FGD dengan tema "Fenomena Golput Dalam Pemilu: Tantangan Bagi KPU dan Bawaslu  dalam Meningkatkan Partisipasi pemilih" giat dilaksanakan di aula Convention Hell pada Rabu (06/05)

Ubaidullah Kordiv SDMO dan Diklat Bawaslu Kabupaten Sumbawa menegaskan, tantangan Bawaslu dalam menjaga integritas proses yang secara tidak langsung memengaruhi kepercayaan pemilih yaitu Menekan Politik Uang, Salah satu alasan munculnya golput politis adalah kejenuhan masyarakat terhadap praktik politik uang (money politics). Jika Bawaslu gagal menindak ini, pemilih merasa suara mereka "tidak berarti" dibanding kekuatan modal. Netralitas Penyelenggara dan Aparatur: Kepercayaan publik adalah kunci. Jika masyarakat mempersepsikan adanya keberpihakan, legitimasi pemilu menurun, yang berujung pada meningkatnya angka golput sebagai bentuk delegitimasi. Tegasnya 

Ubai juga menekankan Pengawasan Konten Negatif, Maraknya hoaks, disinformasi, dan kampanye hitam di media sosial dapat memicu pesimisme publik. Bawaslu ditantang untuk menciptakan iklim kompetisi yang sehat agar pemilih merasa optimis untuk berpartisipasi. Tutup Kordiv SDMO dan Diklat 

Penulis dan Foto: RObi R